Dec 122011
 

Wawancara Agus Setiawan (Angkatan 6) oleh GFI (Global Future Institute)

\"AgusAgus Setiawan, lulus dari Fakulas Sosial-Politik jurusan Hubungan Internasional, Universitas Nasional pada 1997. Sejak menggeluti masalah-masalah internasional, mantan Ketua Senat FISIP UNAS tersebut, menaruh minat pada perkembangan teknologi seputar aneka rupa persenjataan strategis seperti Tank dan Mobil Lapis baja, berbagai tipe senapan tempur, dan aneka jenis pesawat terbang.

Namun pada perkembangannya, karena basis keahliannya fokus pada kajian hubungan internasional, maka Agus lebih memusatkan perhatiannya pada politik jual beli senjata strategis, yang tentunya terkait dengan hubungan antar negara baik bersifat bilateral maupun multilateral.

Berikut wawancara lengkap Agus Setiawan Kamis (01/12) terkait rencana Indonesia untuk menerima hibah pesawat F-16 buatan Amerika Serikat. Baik keuntungan maupun implikasi kerugiannya bagi Indonesia dalam jangka panjang.

Rencananya Amerika Serikat akan beri Hibah Pesawat Tempur F-16 Kepada Indonesia sebanyak 30 pesawat. Tanggapan Anda?

Tergantung, secara teknologi 30 pesawat sih oke-oke saja. Cuma kalau kita beli putus, nanti kalau ada masalah menyangkut politik akan menjadi problem. Kalau dihibahkan pesawat bekas dengan komitmen rekondisinya/diperbaharui di Indonesia, dan sebagian besar spare part (suku cadang) bisa dibuat di dalam negeri sendiri, ya ini dapat dipertimbangkan. Karena punya keuntungan, kalau terjadi apa-apa kita bisa buat sendiri suku cadangnya. Terbukti dahulu Texmaco kan mampu.

Kalau Iran mampu mendesak agar rekondisi dari seluruh pesawat AS yang mereka beli semasa Shah Reza Pahlevi hingga era Revolusi Iran saat ini, kenapa Indonesia tidak bisa. Apa bedanya Iran dengan Indonesia. Sehingga Semua pesawat Iran masih dapat terbang semua sampai di era Revolusi Iran sekarang ini. Seperti F4 Phantom, F-5 Tiger terbang dan F14 Tomcat. Semua masih layak terbang. Karena dengan rekondisi dari Iran sendiri, semua pesawat tersebut masih dapat terbang. Pertanyaannya kenapa Indonesia tidak mampu? Atau memang tidak mau?

Untuk kasus Turki, ternyata beli juga dari AS. Ketika ada kerusakan maka harus ijin dulu dengan AS baru kemudian dapat diperbaiki dan harus membayar terlebih dahulu sebesar US$ 5,2 juta. Bagaimana dengan kondisi Indonesia?

Itulah yang menjadi masalah Indonesia sekarang. Komitmen Indonesia dan Amerika Serikat sendiri bagaimana terkait dengan hibah 30 pesawat tersebut? Dulu Texmaco bisa mendapatkan license produksi suku cadang peralatan tempur dari Eropa dan AS. Kalau Indonesia mampu mendapatkan komitmen license, paling tidak, pertama membuka lapangan kerja. Dirgantara (PTDI – red) jadi ada kerjaan. Kedua Indonesia bisa lebih serius dan lebih cepat melakukan kerja sama pembuatan pesawat tempur sekelas F-35 dengan Korea Selatan.

Dengan kondisi seperti ini apa Indonesia dalam posisi lemah?

Sebenarnya persoalannya berani atau tidak. Dari pengalaman kita diembargo Amerika seperti kasus insiden Santa Cruz di Timor Timor pada 1992, terbukti banyak pesawat terbang kita yang tidak bisa terbang setelah pembelian.

Nah begitu kita dapat hibah F-16 dari Amerika, sekarang Komitmen yang diberikan Amerika sekarang seperti  apa? Jaminannya apa setelah kita sudah membeli pesawat mahal-mahal tapi kemudian tidak bisa terbang. Kalau kita bisa memproduksi suku cadang sendiri, maka ketika kita diembargo, kita bisa bikin sendiri suku cadangnya. Atau kita ambil keputusan untuk membeli ke Iran atau Rusia, toh pesawatnya sama. Dan kedua negara tersebut sama sekali tidak memberi syarat-syarat politik seperti penegakan Hak-Hak Asasi Manusia. Sehingga tidak mungkin ada embargo dari kedua negara tersebut.

Selain itu, ada keunggulan tersendiri. Iran kan bisa membuat teknologi sendiri, karena mengembangkan teknologinya sendiri.  Kenapa Indonesia tidak bisa? Indonesia kan bisa membuat pesawat CN 235 dan yang lainnya. Secara prinsip sama, kenapa pesawat sejenis F-16 kita tidak bisa mengembangkan teknologi kita sendiri?

Kalau ada kemauan, Indonesia pasti bisa mendapatkan license nya juga. Masalahnya belum ada kemauan.  Artinya kita kan sudah punya pengalaman sehingga kita tetap bisa melakukan hal yang sama.

Nah sekarang karena kita tidak bisa mengembangkan teknologinya sendiri dan tidak punya lisensi untuk memiliki suku cadang sendiri, akibatnya Kita beberapa pesawat tempur kita tidak bisa terbang.  Hercules tidak bisa terbang, F-16 tidak bisa terbang. Begitu juga pesawat Hawk buatan Inggris  dan Sky Hawk buatan Amerika, tidak bisa terbang. Kenapa? Karena begitu kita kena embargo dari Amerika dan beberapa negara Eropa Barat sekutu Amerika, pesawat kita tidak bisa terbang karena kita tidak punya suku cadang sendiri.

Kita perlu banyak belajar dari Iran. Kenapa seluruh pesawat yang dibeli oleh Iran dari AS, ketika dilakukan embargo tetapi tetap bisa terbang. Karena secara bisnis dilakukan atas dasar win-win solution. Bukan sekedar politik. Padahal Ini anggaran cukup besar, kalau tidak salah hampir 6,7 triliun rupiah. Itupun baru F-16, belum hercules, rudal. Dan lainnya.

Sekali lagi, kalau Iran mampu kenapa kita tidak bisa? Katanya kita sudah bisa membuat pesawat terbang.

Empat tahun yang lalu Turki membeli F-16 sebanyak 32 unit dengan harga US$ 6 juta / unit. Yang kemudian untuk melakukan rekondisi harus membayar sebesar US$ 5,2 juta. Bagaimana melihat kondisi seperti ini?

Kita seharusnya sudah tahu resiko pembelian dengan AS. Sekali embargo, maka habislah kita semua. Makanya apakah pembeliannya sudah sekaligus dengan kesepakatan bahwa Indonesia dapat hak lisensi untuk alih teknologi.   Kita lihat, Taiwan memproduksi suku cadangnya sendiri diperbolehkan oleh AS. Kalau memang Indonesia dianggap penting oleh AS pastilah diperbolehkan. Kalau ternyata tidak dianggap penting, beli saja Sukhoi dari Rusia. Apalagi kita diberi kredit oleh Rusia untuk pembelian Alat Sistem Persenjataan TNI kita, termasuk pesawat-pesawat tempur buat TNI Angkatan Udara kita.

Dalam kasus Bawean dulu, terbukti Pesawat Tempur F-16 TNI AU kita bisa dikunci oleh Amerika. Komentar Anda?

Sekarang sudah era high-techremote control. Apalagi sudah mulai era pesawat tempur tanpa awak. Inilah resikonya kalau semua suku cadang dibeli dari AS, mungkin saja terlebih dahulu dimasukin chip tertentu. Seandainya kita bisa memproduksinya sendiri maka kita dapat mengantisipasinya sejak awal.

Oleh karenanya kita harus punya hak lisensi untuk memproduksi suku cadang sendiri. Kalau tidak punya maka akan percuma. Kemudian resiko jaminan apa kita tidak di embargo? Sekali lagi untuk urusan beli pesawat dari Amerika ini harus didasarkan pada bisnis bukan politik semata.

Kalau kita diberi hak lisensi untuk memproduksi suku cadang sendiri ternyata kemudian lebih murah, ya AS beli sama kita lah. Sederhana saja kan.

Misalnya, F-16 Block 52 kita kembangkan sendiri teknologinya. Dan kemudian bisa lebih murah, belilah AS dari kita. Disini ada win-win solution. Karena yang menggunakan F-16 bukan hanya satu atau dua negara. Saat ini sudah sebagian besar negara memilikinya.

Apalagi yang sebaiknya dipertimbangkan oleh pemerintah?

Sekali lagi, adakah jaminan tidak di embargo. Karena kita bicara bisnis bukan semata politik. Oke kita dapat 30  pesawat, tapi kita harus dapat untung juga dong. Jangan AS saja yang diuntungkan. Setelah kita keluarkan 7 triliunan rupiah, lalu apa keuntungannya buat kita?

Paling tidak kita bisa minta hak lisensi untuk kawasan Asia Tenggara. Kita bisa kembangkan teknologi  F-16 kita sendiri di Indonesia. Syaratnya, Amerika harus menganggap Indonesia sebagai mitra sejajar. Dan pemerintah kita harus berjuang kearah itu.  Ini bisa jadi ukuran apakah Amerika memang sungguh-sungguh mau berkawan secara politik dengan kita.  Apakah kita dianggap kawan oleh AS. Kalau ini saja kita tidak dipercaya, mendingan kita kita ke Rusia yang sudah jelas-jelas memberi kredit US$ 1,1 miliar untuk peralatan tempur dan peralatan militer lainnya. Dan ini tinggal diambil.

Pada saat SBY dianggap good boy, beranikah mengambil tindakan tersebut?

Inilah pertanyaannya. Apa jaminannya kalo kita sahabat AS. Beranikah kasih jaminannya? Ini masalah bisnis. Indonesia harus minta hak lisensi untuk Rekondisi bagi F-16 kita di Indonesia.

Dengan begini AS diuntungkan sebenarnya. AS tidak perlu lagi membangun pangkalan militernya di Indonesia. Karena secara otomatis Amerika punya basis dukungan strategis melalui kerjasama teknologi militer dengan Indonesia. Karena adanya win-win solution. 

Tanpa jaminan bahwa Amerika tak akan mengembargo kita berarti hibah tidak ada artinya?

Tidak ada artinya.  Dengan 30  pesawat hanya membentuk 1 atau 2 skuadron. Ini masih kurang.

Apa pertimbangan strategis bekerjasama dengan Rusia dan Iran?

Resiko embargo tidak ada. Artinya kita punya jaminan jangka panjang dengan Rusia. Dan selama ini Rusia belum pernah melakukan embargo Indonesia. Tapi Eropa (Barat) dan AS kita punya pengalaman kasus berkali-kali. Termasuk tank pun kita pernah di embargo.

Sekarang kita akan kerjasama dengan Korea Selatan untuk membuat pesawat tempur. Kenapa tidak ini yang dipercepat. Toh anggarannya sama. Kalau hanya mengejar tahun 2014. Malah lebih canggih dari F-16, karena F-35 sudah berteknologi\”siluman\”. Ini kalau memang kita berpikir jangka panjang.

Kalau Cuma menambah 2 skuadron, kita masih kalah sama Malaysia dan Singapura. Jadi kalau memang kita berpikir strategis, ya kita tunggu saja pesawat yang kita bikin sendiri. Daripada beli F-16 atau hibah. Atau sekalian kita beli sukhoi. Atau memang ya itu tadi, kita minta hak license rekondisi itu.

Berarti pertimbangan selama ini tidak strategis?

Tidak strategis. Coba lihat, kenapa kita beli F-16 Block 52 sebanyak 6 unit. Ini kan juga setengah-setengah.

Sekarang kita beli F-16 Block 52. Tiba-tiba sekarang ternyata hibah. Okelah hibah, tapi apa keuntungannya kita untuk jangka panjang. Karena F-16 ini bisa di bilang standard tempur di Asia Tenggara. Kalau kita beli F-16, kita bukan berpikir politik saja tapi bisnis jangka panjang.

Oke hibah. Tapi juga sekaligus license rekondisi itu. Artinya disini kita harus punya visi.

Sumber : GFI

 Posted by on December 12, 2011

  2 Responses to “Kalau Amerika Tidak Percaya Kita, Lebih Baik Berpaling Ke Iran dan Rusia”

  1. beli penyakit….sekaliannn ama pabrik obatt nya…
    …secara devakto…indoesia…punya sdm yg handal…..secara de jurie indonesia…..negara yg masihh terjajahh secara…iptek dan…kebiakann pemerintah….yg tidakk berpihakkk pada…putra bangsa

  2. beli penyakit….sekaliannn ama pabrik obatt nya…
    …secara devakto…indoesia…punya sdm yg handal…..secara de jurie indonesia…..negara yg masihh terjajahh secara…iptek dan…kebiakann pemerintah….yg tidakk berpihakkk pada…putra bangsa

Facebook login by WP-FB-AutoConnect